Pagi ini, aku berangkat ke kantor agak kesiangan, jam 8.04 wib dari kosan. (Hee..he..bangun kesiangan)
Butuh waktu sekitar 15 menit untuk berjalan ke kantor dengan santai. Jadi aku harus jalan lebih cepat jika tidak ingin terlambat masuk (tiba sebelum jam 8.16). Sebenarnya aku bisa naik bemo, tapi pas ada bemo yang menghampiri, mengapa aku bilang “tidak”? (reflek aja). Bemo berlalu, dan aku mikir “wah kenapa tadi tidak ku hentikan bemonya. Nunggu bemo berikutnya terlalu lama, jalan dech… “
.
Ya Allah, sebenarnya aku merasa agak capek pagi ini, apalagi kalo harus jalan cepat, ada gak ya yang mbarengi aku (kutumpangi maksudnya) seperti hari-hari lalu dimana kalau aku lagi merasa capek jalan, selalu ada yang ngasih tumpangan. Tapi rasanya kalau hari ini terulang lagi…mustahil dech. Masa tiap aku merasa capek selalu ada bantuan datang, kan
sudah terlalu sering, …hmmm…jalani aja dech…dinikmati.
.
Belum sampai aku memikirkan hal lain, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menyapaku “ mbak, ayo bareng sama aku, nggak apa-apa”, oh ternyata bapak becak yang biasa mangkal dekat kantor. Aku tersenyum bingung “matur nuwun pak, mboten usah”. ”Lho nggak apa-apa mbak, monggo!”. Akhirnya aku naik juga. Tiba ditempat mangkal becak, sekitar 50m dari kantor, “Sampun Pak, kulo mandap ngriki mawon”. Kubuka tasku, “Pinten Pak?”. “mboten usah mbak, mboten, sa’estu mboten usah”. Aku jadi nyengir. “matur nuwun Pak”, akupun turun. Baru 10 langkah berikutnya, ada motor yang menghampiri, eh ternyata mbak Lily, teman kantor. Baru jalan sebentar sudah ada yang bonceng, sampai kantor.
Jadi langkah pagi ini sama sekali tidak membuat capek, karena ‘bantuan itu’ datang lagi untukku. Alhamdulillah
.
Yaa…Allah, betapa besar cinta-Mu padaku.
Begitu banyak nikmat-nikmat dari-Mu,
Aku sunguh tak mampu, untuk menghitung ‘itu’
Karena nikmat-Mu tak berbatas
Cinta-Mu tanpa tendensi
Tapi bagaimana dengan cintaku pada-Mu?
Tapi bagaimana aku telah memperlakukan-Mu?
Yaa….Allah,
Aku sungguh sangat malu pada-Mu
.
Nikmat-Mu tak hentinya Engkau anugerahkan buat ku
Tetapi, kenapa hamba-Mu ini seringkali lalai akan hal itu?
hatiku kadang membeku,
tidak bisa tersentuh akan hal itu,
tidak bisa memaknai itu
Karena hamba-Mu ini terlalu sibuk,
dengan mimpi besarku
.
- h4yu -
Recent Comments